
Banyak
pria atau wanita yang ingin tahu lebih dalam tentang penis, tapi takut
untuk bertanya. Ini karena hal tersebut masih dianggap tabu dan tidak
pantas untuk dibicarakan.
Seperti dilansir dari WebMD, Rabu (21/4/2010), ada lima hal yang perlu diketahui tentang penis, yaitu sebagai berikut:
1. Penis tidak memiliki pikiran sendiri
Para
pria mungkin sering memperhatikan penisnya mengalami ereksi dengan
sendirinya. Bahkan, hal itu bisa saja terjadi di tempat-tempat yang
seharusnya tidak pantas, tetapi mereka tidak bisa berbuat banyak tentang
hal ini.
Memang benar, pria tidak bisa mengendalikan penis
seperti bagian tubuh lain yaitu lengan dan kaki. Hal ini karena penis
dikendalikan oleh sistem saraf yang tidak selalu di bawah kendali
kesadaran, yaitu sistem saraf otonom, yang juga mengatur denyut jantung
dan tekanan darah.
Gairah seksual biasanya tidak terjadi begitu
saja, pikiran sadar terlibat di dalamnya. Tapi banyak gairah seksual
terjadi dalam sistem saraf simpatetik.
Selain itu, impuls di otak
selama tidur bisa menyebabkan ereksi. Mengangkat beban berat atau
tekanan yang menyebabkan pergerakan usus juga bisa menimbulkan ereksi.
Faktor
psikologis seperti stres juga berperan dalam sistem saraf simpatetik.
Stres dan kecemasan adalah penyebab utama hilangnya libido dan masalah
dengan ereksi. "Penis adalah barometer dari sistem saraf simpatetik,"
kata Drogo Montague, MD, ahli urologi di Cleveland Clinic.
2. Penis bisa mengalami perpanjangan atau tetap saat ereksi
Di antara para pria, tidak ada hubungan yang konsisten antara ukuran penis saat rileks dan saat ereksi.
Dalam
sebuah penelitian terhadap 80 pria, peneliti menemukan bahwa
peningkatan ukuran penis saat rileks ke ereksi sangat bervariasi, mulai
kurang dari 0,6 cm hingga 8,89 cm.
Apa pun makna data klinis
tersebut, tidak dapat diasumsikan bahwa orang dengan penis besar akan
jauh lebih besar ketika ereksi, karena bisa jadi pria yang penisnya
terlihat kecil justru akan mengejutkan dengan ereksi yang besar.
Sebuah
analisis lebih dari ratusan pengukuran yang dilakukan oleh peneliti
seks Alfred Kinsey, menunjukkan bahwa penis yang pendek ketika rileks
cenderung mengalami perpanjangan dua kali lipat ketika ereksi.
3. Penis sebenarnya berbentuk seperti bumerang
Penis
sebenarnya berbentuk seperti bumerang. Sama halnya ketika melihat pohon
di tanah, kita tidak bisa melihat akar penis yang tersembunyi di dalam
pelvis dan menempel pada tulang kemaluan.
Jika dilihat dari gambar MRI, maka bentuk penis akan terlihat seperti bumerang.
Salah
satu metode operasi pembesaran penis adalah untuk memotong ligamen yang
memegang akar penis di dalam pelvis. Operasi ini dapat memberikan
panjang tambahan jika penis lebih menonjol dari tubuh, tetapi ada efek
samping.
Ligamen ini, yang disebut ligamen suspensorium, membuat
ereksi menjadi kokoh. Dengan pemotongan ligamen berarti penis kehilangan
arah sudut ke atas dan bergoyang di pangkalan. Kurangnya kekokohan
dapat mengakibatkan cedera.
4. Penis bisa patah
Tidak
terdapat tulang pada penis, tapi penis juga bisa patah. Hal ini yang
disebut fraktur penis, dan bukan merupakan cedera ringan.
Bila
ini terjadi akan terdengar suara sentakan, dan kemudian penis berubah
menjadi hitam dan biru, disertai rasa sakit yang mengerikan. Fraktur
penis terbilang langka, dan biasanya terjadi pada pria muda karena
ereksi mereka cenderung sangat kaku.
Cara mencegah fraktur penis
adalah tidak memperlakukannya terlalu kasar. Fraktur penis bisa terjadi
ketika pria terlalu keras dan cepat selama berhubungan seks, sehingga
menabrak tulang kemaluan pasangannya. Selain itu, wanita yang bergerak
liar saat berhubungan seks juga dapat mematahkan penis pria.
Namun,
sindrom Peyronie atau penis bengkok merupakan kondisi yang cenderung
muncul lebih relevan pada pria tua. Ereksi pada pria tua mungkin tidak
kaku, tapi masih cukup keras untuk melakukan hubungan seks. Seiring
waktu, jika penis terlalu membentuk sudut dengan cara tertentu saat
berhubungan seks, dapat membentuk jaringan parut yang menyebabkan penis
bengkok.
5. Kebanyakan penis pria di dunia belum disunat
Menurut
laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Joint United Nations Programme
on HIV/AIDS (UNAIDS) memperkirakan hanya 30 persen pria berusia 15 tahun
ke atas yang telah disunat.
Hal ini sangat bervariasi tergantung
agama dan bangsa. Hampir semua orang Yahudi dan Muslim di dunia telah
disunat, dan mereka mewakili 70 persen dari semua pria di dunia yang
telah disunat.
Amerika Serikat memiliki proporsi tertinggi pria
disunat karena alasan non-religius. Sekitar 75 persen pria non-Yahudi
dan non-Muslim di AS telah disunat. Kanada hanya 30 persen, Inggris 20
persen dan Australia 6 persen.
Praktik menyunat bayi laki-laki
karena alasan medis dan kosmetik telah menjadi kontroversial di Amerika
Serikat. Namun, baru-baru ini WHO dan UNAIDS merekomendasikan sunat bagi
pria dewasa. Karena berdasarkan bukti, bahwa pria dengan penis yang
disunat memiliki risiko lebih rendah terinfeksi HIV.